Cinta adalah makanan bagi hati dan obat penenang rohani. Ia adalah
obat bagi seluruh penyakit yang bersarang di dada seseorang. Ia juga merupakan
kebahagiaan, yang jika seseorang tidak mendapatkannya maka hidupnya berarti kepedihan
dan penderitaan.
Cinta itu akan membuat hati mereka terasa damai, membuat segala
kesulitan menjadi mudah, sedih menjadi gembira, sehingga dengannya hilanglah
segala kekhawatiran, kesempitan dan penderitaan.
Cinta itu akan berubah kerinduan. Rindu untuk bersua, rindu untuk
berdua, rindu untuk bersama dan rindu untuk memuja.
Itulah cinta yang suci. Cinta yang
tak terkotori oleh noda apapun, yang tulus dari hati yang terdalam, yang akan
mengantarkan seorang hamba kehadapan Rabb-nya, yakni cinta kepada Sang
Pencipta, Allah SWT.
Cara Mendapatkan Cinta Allah.
Bukanlah hal yang luar biasa bila seorang hamba mencintai Allah
‘azza wa jalla. Karena setiap orang dapat mengatakannya. Akan tetapi bila
Allah mencintai mereka, maka itulah yang istimewa karena tidak setiap hamba
akan memperolehnya,
Kecintaan dari Allah berarti Dia memberikan keridhoaan. Kecintaan
itu hanya akan didapat dengan taat kepada-Nya, yakni menjalankan semua yang
diperintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Kemudian setelah itu dengan
menjalankan amalan-amalan sunnah. Rasulullah SAW bersabda : “sesunggguhnya
‘azza wa jalla telah berfirman : barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka
sungguh aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-ku dengan suatu amalah yang
lebih Aku cintai dari pada amalan yang Aku wajibkan kepada mereka. Dan
senantiasa hambaku mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, hingga aku
mencintai mereka. Dan jika aku mencintai meereka, maka aku menjadi pendengaran
baginya yang dengannya mereka mendengar, penglihatan mereka yang dengannya
mereka melihat, tngan mereka yang dengannya mereka berbuat, dan kaki mereka
yang dengannya mereka berjalan. Dan apabila mereka meminta sesuatu, maka
sungguh Aku akan memberikan, dan jika mereka memohon perlindungan, maka sungguh
Aku akan melindungi.” (HR. Al-Bukhari)
Menuju Cinta dengan Taubat
Betapa banyak kemaksiatan telah kita lakukan, baik sengaja maupun
tidak. Betapa sering kita durhaka kepada-Nya. Perintah-perintah-Nya kita
abaikan, larangan-larangan-Nya kita langgar, sunnah-sunnah Rasul-Nya pun kita
tinggalkan.
Akan tetapi subhanaalah….. betapa luas ampunan-Nya. Meski kita
durhaka, tetap Dia limpahkan juga rizki-Nya kepada kita. Tetap Dia biarkan
nikmat-nikmat-Nya melekat pada diri kita. Nikmat pendengaran,penglihatan, sehat
dan juga nikmat lain yang sering tak kita sadari. Akankah kita menjadi hamba
yang tak pandai bersyukur?
Allah SWT senantiasa menjanjikan ampunan bagi tiap hamba yang
ingin kembali kepada-Nya. Pintu untuk kembali itu adalah taubat. Dia berfirman
: “hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan
nasuhaa. Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan
memasukkanmu kedalam surge yang mengalir dibawhnya sungai-sungai….”
(QS.At-Tahriim:8)
Rasul-Nya SAW juga bersabda, “sesungguhnya Allah membentangkan
tangan-Nya pada waktu malam supaya bertaubat orang yang telah melanggar pada
siang hari, Dia juga mengulurkan tangan-Nya pada waktu siang supaya bertaubat
orang yang berdosa pada waktu malam. Keadaan tersebut tetap terus berlangsung
hingga matahari terbit dari arah tenggelamnya.” (HR. Muslim)
Allah mencintai orang yang bertaubat. Namun dia benci orang yang
menyengaja untuk bermaksiat. Apalagi berulang-ulang. Apalagi menjadikannya
permainan, yakni bermaksiat, bertaubat, dan terus mengulanginya kembali tanpa
penyesalan.
Ketahuuilah saudaraku, dosa yang terus di ulang tanpa penyesalan
itu lebih pantas disebut kedurhakaan, karena yang namanya taubat itu
mengharuskan adanya penghenttian dan rasa sesal yang mendalam. (Rahman, Norman.
Akhlak al-karimah. Klaten : Prima Media Press)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar