Sabtu, 03 Mei 2014

MENABUR CINTA MENUAI RINDU


Cinta adalah makanan bagi hati dan obat penenang rohani. Ia adalah obat bagi seluruh penyakit yang bersarang di dada seseorang. Ia juga merupakan kebahagiaan, yang jika seseorang tidak mendapatkannya maka hidupnya berarti kepedihan dan penderitaan.
Cinta itu akan membuat hati mereka terasa damai, membuat segala kesulitan menjadi mudah, sedih menjadi gembira, sehingga dengannya hilanglah segala kekhawatiran, kesempitan dan penderitaan.
Cinta itu akan berubah kerinduan. Rindu untuk bersua, rindu untuk berdua, rindu untuk bersama dan rindu untuk memuja.
Itulah cinta yang suci. Cinta yang tak terkotori oleh noda apapun, yang tulus dari hati yang terdalam, yang akan mengantarkan seorang hamba kehadapan Rabb-nya, yakni cinta kepada Sang Pencipta, Allah SWT.
Cara Mendapatkan Cinta Allah.
Bukanlah hal yang luar biasa bila seorang hamba mencintai Allah ‘azza wa jalla. Karena setiap orang dapat mengatakannya. Akan tetapi bila Allah mencintai mereka, maka itulah yang istimewa karena tidak setiap hamba akan memperolehnya,
Kecintaan dari Allah berarti Dia memberikan keridhoaan. Kecintaan itu hanya akan didapat dengan taat kepada-Nya, yakni menjalankan semua yang diperintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Kemudian setelah itu dengan menjalankan amalan-amalan sunnah. Rasulullah SAW bersabda : “sesunggguhnya ‘azza wa jalla telah berfirman : barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku  mendekat kepada-ku dengan suatu amalah yang lebih Aku cintai dari pada amalan yang Aku wajibkan kepada mereka. Dan senantiasa hambaku mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, hingga aku mencintai mereka. Dan jika aku mencintai meereka, maka aku menjadi pendengaran baginya yang dengannya mereka mendengar, penglihatan mereka yang dengannya mereka melihat, tngan mereka yang dengannya mereka berbuat, dan kaki mereka yang dengannya mereka berjalan. Dan apabila mereka meminta sesuatu, maka sungguh Aku akan memberikan, dan jika mereka memohon perlindungan, maka sungguh Aku akan melindungi.” (HR. Al-Bukhari)
Menuju Cinta dengan Taubat
Betapa banyak kemaksiatan telah kita lakukan, baik sengaja maupun tidak. Betapa sering kita durhaka kepada-Nya. Perintah-perintah-Nya kita abaikan, larangan-larangan-Nya kita langgar, sunnah-sunnah Rasul-Nya pun kita tinggalkan.
Akan tetapi subhanaalah….. betapa luas ampunan-Nya. Meski kita durhaka, tetap Dia limpahkan juga rizki-Nya kepada kita. Tetap Dia biarkan nikmat-nikmat-Nya melekat pada diri kita. Nikmat pendengaran,penglihatan, sehat dan juga nikmat lain yang sering tak kita sadari. Akankah kita menjadi hamba yang tak pandai bersyukur?
Allah SWT senantiasa menjanjikan ampunan bagi tiap hamba yang ingin kembali kepada-Nya. Pintu untuk kembali itu adalah taubat. Dia berfirman : “hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa. Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu kedalam surge yang mengalir dibawhnya sungai-sungai….” (QS.At-Tahriim:8)
Rasul-Nya SAW juga bersabda, “sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada waktu malam supaya bertaubat orang yang telah melanggar pada siang hari, Dia juga mengulurkan tangan-Nya pada waktu siang supaya bertaubat orang yang berdosa pada waktu malam. Keadaan tersebut tetap terus berlangsung hingga matahari terbit dari arah tenggelamnya.” (HR. Muslim)
Allah mencintai orang yang bertaubat. Namun dia benci orang yang menyengaja untuk bermaksiat. Apalagi berulang-ulang. Apalagi menjadikannya permainan, yakni bermaksiat, bertaubat, dan terus mengulanginya kembali tanpa penyesalan.
Ketahuuilah saudaraku, dosa yang terus di ulang tanpa penyesalan itu lebih pantas disebut kedurhakaan, karena yang namanya taubat itu mengharuskan adanya penghenttian dan rasa sesal yang mendalam. (Rahman, Norman. Akhlak al-karimah. Klaten : Prima Media Press)



Tidak ada komentar: