Selasa, 27 Mei 2014

Lepas Dari Tangan Polisi Tanpa Uang Dan Surat-Surat

Lepas Dari Tangan Polisi Tanpa Uang Dan Surat-Surat
Aku seorang mahasiswi IAIN Surakarta jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, sekarang menempati semester IV dengan mengambil konsentrasi mata kuliah Jurnalistik. Sapaan ku adalah Ratri, diambil dari nama depanku Ratri Dwi Prihantini. Kamis, 27 Mei 2014 aku mengalami kejadian-kejadian unik ketika melakukan perjalanan ke Bank Swamitra di Klaten dan pulang-pulangnya aku tertangkap polisi karena melanggar lampu merah. Untungnya bisa selamat walau tak ada uang sepeserpun dan surat-surat.
Mendapat amanat dari seorang ibu untuk pergi ke bank Swamitra, yang letaknya di dekat Gedung Olah Raga (GOR) Klaten, demi memenuhi janji di setiap bulan. Sebenarnya pada hari itu aku lumayan sibuk, karena aku sedang bekerja di suatu toko di daerah Pedan untuk mengisi liburanku yang panjang. Kamis, 27 Februari 2014 aku mendapat shif 2, jadi masuk kerja pukul 10.00 WIB, maka harus berangkat pukul 8.00 WIB dari rumah. Supaya tidak terlambat sampai di tempat kerja. Sebelum berangkat aku sudah diingatkan oleh ibu untuk berangkat lebih awal agar tidak terburu-buru dalam perjalanan. Tetapi aku tetap saja susah karena sebelum berangkat masih suka nyantai-nyantai menonton TV atau bisa dibilang nggampangke.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8.00 tepat, aku baru mengeluarkan sepeda motor kesayangnku, ia sangat manja setiap paginya. Jadi harus selalu dipanasi terlebih dahulu sebelum mengajaknya untuk pergi. Kalau tidak dipanasi dahulu, pasti ia akan ngambeg dan akhirnya berhenti di jalan karena marah. Tetapi karena terburu-buru, aku sengaja tidak memanasinya. “Macet nang dalan ngko ra dipanasi sik?” ungkap kakakku yang sengaja mengingatkan akan suatu hal.  Aku pun tak memperdulikan perkataannya, karena waktu sedang mengejarku, “Ah selak awan” jawab ku singkat seketika memasukkan presnel pertama motorku.
Ibu yang selalu khawatir akan keadaanku, beliau pun berpesan padaku saat aku sudah mulai melaju, kira-kira 5 meter meninggalkan rumah dengan berbicara keras, supaya aku mendengarnya. “Lewat ndeso wae ndug ndak enek tilangan” ujar ibuku untuk mengingatkan ku. Aku yang selalu mendengar  perkataan ibuku, aku sudah mempunyai niat untuk turut dan mengikuti kata beliau bahwasanya saya harus lewat jalan di desa saja. Kalau melewati jalan raya, ibu ku khawatirnya nanti tiba-tiba ada tilangan, karena aku belum mempunyai Surat Izin Mengemudi (SIM). Jadi aku disuruh untuk menghindari tilangan, karena jam segitu itu waktunya rawan tilangan.
Namun aku ingat lagi pesan kakakku yang tadi. Tidak sampai 5 menit aku keluar rumah, motor ku yang manja mulai kumat “Ndreeett ndreeett” tangisan motorku yang memintaku untuk memanasinya dulu. Dan akhirnya setelah menangis, ngambeg juga dan langsung mati di tempat. Ahh betapa malunya aku, motorku mati di tempat cuci motor daerah Drangsan Ceper Klaten. Aku malu sekali karena di situ tempat nongkrongnya temanku SMP, yang sekarang sudah agak canggung untuk mengenalnya. Dibalik rasa maluku, ada rasa kesal yang mulai muncul, meskipun dia segera nyamperin aku dan membantu membenahi motorku. “ngppo he motor e?” ujarnya yang sangat tidak sopan kepadaku dengan tidak memanggil namaku. Aku mencoba sabar dengan ini, dan setelah bisa dinyalakan, bergegas untuk dipanasi supaya tidak macet lagi. Belum sempat mengucapkan terimakasih saja, iapun sudah meninggalkanku sendirian, rasanya itu ingin aku jitak di kepalanya supaya bisa sedikit sopan padaku, karena aku menjawab dengan sopan ketika ia kasar.
Akupun juga bergegas pergi saja dan karena sudah membantuku, aku meninggalkan senyuman mahal dari motorku “piim” ujar motorku karena sudah dibenahi.
Setelah lama aku berjalan, sampailah pada perempatan Karangwuni dan menyalalah lampu merah. Karena aku belok kiri, maka aku segera belok saja tetapi, saat aku berjalan pelan, tiba-tiba tasku yang berwarna biru dongker nyangkut di stang motor seorang ibu. Dengan terpaksa akhirnya tas yang aku cangklong di lengan tangan kananku putus talinya dan jatuh  spontan di tepi jalan yang rusak. Sudah putus talinya saja aku malu sekali sama orang-orang yang menunggu lampu hijau dan orang yang di pinggir jalan. Nah itu sudah putus talinya ditambah jatuh di tempat yang ada airnya. Oohh sungguh malunya diriku saat itu, kemudian aku segera mengerem dan mengambil tasku yang jatuh di samping kanan ban motorku bagian belakang.
Mungkin aku yang salah karena saat itu aku berjalan di jalan yang rusak, jadi ibu yang tersenggol tasku tidak minta maaf sedikitpun padaku. Aku yang minta maaf dengannya, dan sungguh teganya dia tidak membantu mengambilkan tas saya. Dengan kegrogianku yang spontan mengerem mendadak, membuat pengendara motor dibelakangku kaget dan marah padaku sampai terucapnya kata-kata hewan. Aku tidak berani mengungkapkannya karena kata-kata itu tidak baik untuk dibaca maupun didengar. Aku yang susah bersikap cuek pada orang lain, kala itu aku bersikap sangat cuek, aku tak menghiraukan kata-kata itu dan aku pun segera pergi dengan wajah yang sangat jutek sekali.
Sampai-sampai aku lupa dengan pesan ibuku yang mengharuskan aku melewati jalan desa, karena emosiku yang sudah tinggal 5 cm lagi akan keluar. Tetapi syukur alhamdulillah, ketika aku melewati sepanjang jalan raya aku tidak menemui tilangan. Jadi aku sangat merasa aman untuk lewat jalan raya. Tepat pukul 9.30 WIB aku baru sampai di Bank Swamitra, karena tadi mengalami kejadian-kejadian yang tidak terduga sama sekali. Tapi tidak apa-apa karena, aku mengiranya waktu 30 menit itu cukup untuk sampai di tempat kerja. Setelah selesai berurusan di Bank, aku segera kabur menuju tempat kerjaku. Namun karena matahari yang semakin meninggi, sebelum menyalakan motorku aku memakai sarung tangan dulu supaya tangan ku tidak kepanasan sinar matahari yang begitu panas.
Waktu yang semakin cepat mengejarku, aku pun juga segera bertindak cepat untuk mengajak motorku pergi bekerja. Berharap sekali untuk tidak bertemu dengan bapak polisi di jalan raya, karena aku sudah bosan bertemu dengan bapak polisi yang tidak mempunyai kepentingan denganku.
Tepat di perempatan Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten, aku mulai ragu dengan lampu lalu lintas hijau. Sebenarnya waktu aku sudah dekat dengan lampu, lampu lalu lintas masih berwarna hijau Tapi ketika aku berada 1 meter sebelum garis putih, tiba-tiba lampu hijau berubah menjadi merah. Dan aku sudah tidak bisa mengendalikan motorku karena aku dalam kecepatan 90an km/jam untuk mengejar waktu supaya sampai tempat kerja tepat waktu.
Awalnya aku mengira aman-aman saja, karena aku tidak mendengar suara peluit dan tidak melihat dari spionku kalau ada polisi mengikuti aku. Aku sebenarnya dag-dig-dug sekali karena sama saja menerobos lampu merah dan takut kalau di kejar oleh bapak polisi. Ehh mak deg di hatiku, seperti jin yang menghilang dan bisa muncul dimana saja. Tiba-tiba saja aku didekati oleh bapak polisi disebelah kanan saya ketika aku sudah sampai di perbelokan Daerah Ngaran Mlese Klaten. Aku merasa sangat nggumun sekali ketika didekati polisi, karena sejak dari RSI aku melihat dari spion tidak ada polisi yang mengikutiku, tapi itu bisa-bisa muncul di sampingku. “Selamat siang mbak?” ujar bapak polisi yang mengepetku untuk segera menepi dari jalan. “Hadduh,, siiiang pak” jawabku dengan sangat grogi, takut dan segera menepi dari jalan.
Bapak polisi yang terlihat sangat menakutkan itu segera meminta aku untuk mengeluarkan surat-surat, “Keluarkan surat-suratnya!” paksa pak polisi. Dan aku pun segera membuka tas dan mencari dompetku, tetapi ketika dompetku aku buka hanya ada uang Rp.5.000, Kartu Tanda Penduduk (KTP) lama dan kartu-kartuku waktu Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). SIM aku belum ada, dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) motorku tidak ada di dompetku, tapi aku tetap mencarinya di tasku dan hasilnya tetap nihil. “Haduh STNK gak bawa pak” ujar ku sambil nepuk jidatku sendiri.  Aku lupa-lupa ingat kalau STNK ku masih di bawa ayahku dan aku lupa memintanya.
Rasa bingung menghampiriku, karena polisi yang crewet minta surat-surat dan aku berpikiran bahwa kartu yang saya bawa dan masih berlaku hanya KTP. Namun aku mempunyai 2 KTP, jadi aku berikan saja KTP yang lama tapi masih berlaku. Meskipun ditanya yang e-KTP, aku memberanikan diri untuk sedikit berbohong demi bisa menyelamatkan KTP baruku. Karena aku sudah mengira bahwa pasti akan disita, jadi aku berikan saja yang sudah tidak terpakai.
Setelah mendapat KTPku, pak polisi pun segera menggiringku kembali menuju pos polisi yang ada di dekat RSI, untuk membahas kesalahan dan denda yang aku terima. Dengan berat hati aku mengikutinya, awalnya aku berpikiran untuk kabur tetapi takutnya akan semakin besar resiko yang aku tanggung nantinya. Jadi aku mengikuti pak polisi dengan penuh kegelisahan, takut dan khawatir kalau dimarahi karena terlambat datang ke tempat kerja.
Sampai di pos polisi, aku masih kuat untuk bertahan dengan tegas. Tapi setelah aku didesak polisi dengan pertanyaan dan pernyataan yang membuatku gila di tempat, aku setengah sadar menjatuhkan mutiara emas dari mataku. Karena mendengar denda dari pelanggaran yang aku buat cukup besar sekali, yaitu jutanan. Dengan arti tidak ada SIM, STNK, belum pajak motor, melanggar lampu merah. Betapa banyaknya pelanggaran yang aku lakukan, aku hanya bisa terdiam, bingung, merintih, apa yang harus aku lakukan. Mencoba merayu-rayu pak polisi supaya mau meringankan bebanku, dan aku keburu-buru kerja, sangat susah sekali itu bisa dilakukan. “aku mbantu pie eneh? Salahmu gedhe banget” ujar polisi yang sampai sekarang selalu teringat dipikiranku.
Aku bergegas menelphone kakakku untuk segera datang ke tkp, tapi aku berpikir nanti pasti harus ngluarin uang. Nah aku terlintas pikiran bahwa kakakku bisanya datang nanti pulang kerja, terus aku juga cerita sama pak polisi kalau aku sudah terlambat ke tempat kerja. Aku pun segera memutuskan untuk memohon-mohon pada pak polisi membebaskan saya. Dan akhirnya setelah sekian lama aku diwawancarai dan dimarahi pak polisi. Aku berjanji bahwa nanti sekitar pukul 3 sore kakakku kayaknya mau kesini. Katanya kalau menuggu sampai jam 3 tidak apa-apa. Pak polisi pun tidak memperhatikan kata-kataku yang kayaknya, jad dia percaya saja kalau nanti kakakku pasti datang. “Hehehe pak polisi bisa tertipu kata-kata juga ni” pikirku smbil ketawa. Akhirnya diperbolehkan pergi setelah berjanji seperti itu, tapi KTP ku tetap disita sama pak polisi, aku segera meluncur ke tempat kerja karena sudah terlambat sekali. Sampai di tempat kerja aku ditanya-tanya lagi kenapa bisa terlambat lama, aku mulai menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada teman dan bos ku. Namun hanya temanku yang merasa kasian padaku. Aku tak perduli ada yang mau marah sama aku, toh aku sedang merasa kesal jadi aku cuek bebek saja.
Setelah tiba samapi dirumah pukul 7.00 malam, aku mulai cerita sama keluargaku dan mereka semua sebenarnya marah padaku karena aku tledor, tetapi karena banyak kejadian buruk sedang mengujiku di hari itu, ibuku yang selalu baik padaku segera membuatkan ku semangkuk mie untuk penenang pikiranku. Betapa hebatnya diriku, bisa kabur dari tangan polisi tanpa ada surat-surat dan uang sepeserpun, KTP lama sudah tak penting lagi. Hahaha

Tidak ada komentar: