Kamis, 20 Maret 2014

Dahwah Dalam Suatu Kajian Keislaman



DAKWAH DALAM SUATU KAJIAN KEISLAMAN

Dakwah secara bahasa mempunyai makna bermacam-macam, yaitu:
1.     النداء    : memanggil dan menyeru.
2.     Menegaskan atau membela, baik terhadap yang benar ataupun yang salah, yang positif maupun yang neagatif.
3.     Suatu usaha berupa perkataan atau perbuatan untuk menarik seseorang kepada suatu aliran atau agama tertentu.
4.     Do’a (permohonan)
5.     Meminta dan mengajak seperti ungkapan, da’a bi as-syai’ yang artinya meminta dihidangkan atau dihidangkan makanan atau minuman. (Faizah, 2006:4)
Dakwah adalah kewajiban setiap muslim yang harus dilakukan secara bersinambung, yang bertujuan akhir mengubah perilaku manusia berdasarkan pengetahuan dan sikap yang benar, yakni untuk membawa manusia ke arah yang baik yakni untuk mengabdi kepada Allah secara total, mencintai Allah dan Rasul mereka lebih daripada kecintaan mereka terhadap diri mereka sendiri, seperti yang ditunjukkan oleh para sahabat NAbi.
Keberhasilan dakwah pertama-tama adalah karena hidayah Allah, bukan sekedar hasil usaha manusia. Ada anggapan bahwa dakwah seseorang yang berilmu tinggi, fasih membaca Al-Qur’an dan hadist akan berhasil. Kenyataannya, di Negara kita kemaksiatan merajalela, padahal ulama bertebaran dimana-mana dan ceramah agama pun marak, baik secara langsung ataupun lewat televisi. Ilmu agama yang tinggi juga tidak selalu sejajar dengan keimanan yang tinggi.
Dakwah dan komunikasi merupakan aktivitas yang hampir sama, walaupun terdapat pula perbedaan-perbedaan. Kalau diperhatikan secara seksama dan mendalam, pengertian dakwah itu tidak jauh berbeda dengan komunikasi. Antara keduanya, dakwah dan komunikasi merupakan dua sisi yang berbeda, hanya saja yang dibedakan dari bentuk komunikasi lainnya adalah pada cara dan tujuan yang akan dicapainya.
Tujuan dari komunikasi adalah mengharapkan adanya suatu partisipasi dari komunikan atas ide-ide atau pesan yang disampaikan oleh pihak  komunikator sehingga dari pesan yang disampaikan tersebut terjadi perubahan sikap dan tingkah laku yang diharapkan karena adanya suatu kesamaan makna dan respon antara komunikator dan komunikan.
Sedangkan di dalam dakwah juga demikian, bahwa seorang da’i sebagai komunikator sangat mengharapkan adanya partisipasi dari pihak komunikan dan kemudian mengharapkan agar komunikannya tersebut dapat mengerti benar apa maksud dari pesan sang da’I serta dapat  bersikap dan berbuat sesuai dengan isi pesan yang disampaikan oleh da’i tesebut.
Ciri khas yang membedakan antara dakwah dan komunikasi adalah pada pendekatannya yang  dilakukan secara persuasive, dan bertujuan mengharapkan terjadinya perubahan dan pembentukan sikap dan tingkah laku sesuai dengan ajaran-ajaran islam. (Toto Tasmara, 1987 : 39)
Dapat dikatakan bahwa dakwah itu juga merupakan suatu proses komunikasi, tetapi tidak semua proses komunikasi merupakan proses dakwah. Dengan demikian dakwah itu merupakan suatu bentuk komunikasi yang khas dan dapat dibedakan dari bentuk komunikasi lainnya dalam beberapa hal debagai berikut :
a.     Siapakah pelakunya (komunikator), yaitu:  kalau dakwah itu pelakunya disebut sebagai da’I atau penceramah tentang suatu agama tertentu, sedangkan komunikasi itu dapat dilakukan oleh siapapun.
b.     Apakah pesan-pesannya (message) yaitu: pesan atau isi yang disampaikan oleh sang da’I itu kebanyakan tentang agama tetapi kalau komunikasi itu pesan yang disampaikan berupa apa saja.
c.      Bagaimanakah caranya (approach) yaitu: cara yang digunakan pendakwah untuk menyampaikannya bisa melalui kajian keislaman seperti yang dibahas pada bab ini, sedangkan komunikasi dapat disampaikan melalui apa saja bisa tidak harus formal.
d.     Apakah tujuannya (destination) yaitu : kalau untuk dakwah  mengajak  dan membujuk kepada sesuatu yang baik ,sedangkan komunikasi untuk menyampaikan sesuatu dan mengungkapkan perasaaan dan lain-lain.
e.      Siapaka penerimanya (komunikan) yaitu: kalau dakwah itu penerimanya dapat disebut mad’u dan bisa juga untuk khalayak umum, sama dengan komunikasi juga dapat diterima di khalayak umum dan dapat juga diterima oleh satu orang saja (komunikasi personal).

Ciri-ciri dakwah yang efektif adalah :
Sebagai suatu usaha, aktivitas dakwah harus bisa di ukur keberhasilannya. Oleh karena itu, tujuan dari aktivitas dakwah harus dirumuskan secara definitive, terutama tujuan mikronya. Dari sudut psikologi dakwah, ada lima cirri dakwah yang efektif, yaitu :
1.     jika dakwah dapat memberikan pengertian kepada masyarakat (Mad’u) tentang apa yangdidakwahkan.
2.     Jika masyarakat (Mad’u) merasa terhibur oleh dakwah yang diterima.
3.     Jika dakwah berhasil meningkatkan hubungan baik antara Da’I dan masyarakat.
4.     Jika dakwah dapat mengubah sikap masyarakat (Mad’u).
5.     Jika dakwah berhasil memancing respons masyarakat berupa tindakan.
Bentuk dakwah yang efektif  adalah dengan memberikan contoh teladan, karena sasaran akan lebih mudah dan lebih cepat menyerap nilai-nilai islam melalui contoh-contoh konkret. Seperti halnya dakwah dalam suatu kajian keislaman  yang harus disampaikan dengan jelas secara tatap muka yaitu dengan berkomunikasi secara kelompok, karena dalam suatu kajian keislaman di suatu desa atau masyarakat itu pasti yang mengikuti banyak. Berkomunikasi di dalam suatu kelompok atau sebagai seorang Da’i itu harus bisa mengontrol diri di depan para pendengarnya. Sebelum melakukan dakwah di depan umum, harus mempersiapkan diri terlebih dahulu dengan mempersiapkan segalanya, agar bisa melakukan komunikasi dengan pendengarnya bisa lancar dan berjalan dengan baik, misalnya dengan mempersiapkan pesan apa yang akan disampaikan dan berlatih berbicara di depan umum supaya tidak kringat dingin ketika berbicara . Kalau tidak bisa tenang dalam berbicara atau berkomunikasi tersebut tidak akan bisa efektif, karena sang pendengar pasti tidak berkonsentrasi terhadap apa yang disampaikan melainkan hanya memperhatikan sang da’I yang kringat dingin tersebut bahkan bisa juga tertawa sendiri melihatnya .
Dalam disiplin komunikasi, khususnya pidato di depan kajian keislaman seperti ini, kerisauan ini identik dengan empati, yang berperan penting dalam keberhasilan komunikasi , sedangkan keikhlasan adalah aspek penting dari kredibilitan komunikator. Tanpa keikhlasan, pesan komunikasi yang disampaikan akan dicemooh khalayak.  Kita merasakan betapa janggal orang yang menyerukan kebaikan, sementara perilakunya sendiri bertentangan dengan seruannya. Jadi seorang da’i itu harus bisa menjadi apa yang menjadi seruannya itu, tidak hanya berpidato saja tetapi kelakuannya tidak mencerminkan seperti apa yang ia serukan dalam dakwahnya kepada masyarakat tersebut.
Dakwah itu harus disampaikan secara persuasive, yaitu dengan menggunakan cara berfikir dan cara merasa masyarakat yang didakwahi sehingga mereka mematuhi seruan dari da’I tersebut.
Komunikasi (Communication), secara etimologi berasal dari kata latin communication, dan bersumber dari communis yang berarti sama. Disini maksudnya sama makna. Sama makna itu berarti apa yang dibicarakan oleh da’I yang sedang berkomunikasi di depan khalayak umum dan khalayak dapat menerima serta dapat mengerti baik apa maksud yang sedang dibicarakan oleh sang da’I , dan itulah yang dinamakan komunikasi yang efektif antara seseorang dengan sekelompok orang.
Sebagai peristiwa komunikasi, aktivitas dakwah dapat menimbulkan berbagai peristiwa yang harmoni, yang menegangkan, yang kontroversial, bisa juga melahirkan berbagai pemikiran, baik pemikiran yang moderat maupun yang ekstrem, yang sederhana maupun yang rumit, yang parsial maupun komprehensif. Untuk menjadikan dakwah dalam suatu kajian keislaman tersebut menjadi efektif , da’I harus memahami beberapa prinsip-prinsip dakwah sebagai berikut :
1.     Berdakwah harus dimulai dari diri sendiri dan kemudian menjadikan keluarganya sebagai contoh bagi masyarakat.
2.     Secara mental, Da’I harus menjadi pewaris para nabi, yakni mewarisi kejuangan yang berresiko.
3.     Da’I harus menyadari bahwa para pengkaji keislaman membutuhkan waktu untuk dapat memahami pesan dakwah.
4.     Da’I juga harus menyelami alam pikiran para pengkaji keislaman sehingga kebenaran islam bisa disampaikan dengan menggunakan logika masyarakat.
5.     Dalam menghadapi kesulitan, da’I harus bersabar menghadapi para pengkaji keislaman tersebut.
6.     Citra positif dakwah akan sangat melancarkan komunikasi dakwah, dan sebaliknya citra buruk akan membuat semua aktivitas dakwah menjadi kontraproduktif.
Jadi kegiatan dakwah dalam suatu kajian keislaman adalah suatu komunikasi dimana da’i mengomunikasikan pesan kepada Mad’u, perseorangan atau kelompok. Secara teknis dakwah adalah komunikasi antara Da’i (komunikator) dan Mad’u (komunikan). Semua hokum yang berlaku dalam ilmu komunikasi berlaku juga dalam dakwah, hambatan komunikasi adalah hambatan dakwah, dan bagaimana mengungkapkan apa yang tersembunya dibalik perilaku manusia dakwah sama juga dengan apa yang harus dikerjakan pada manusia komunikan.
     Kemudian perbedaan dari dakwah dan komunikasi itu terletak pada muatan pesannya, pada komunikasi sifatnya netral sedangkan pada dakwah terkandung nilai-nilai yang bersifat keteladanan dan kebenaran. (Faizah, 2006 : 37)