Lepas Dari Tangan Polisi Tanpa Uang
Dan Surat-Surat
Aku
seorang mahasiswi IAIN Surakarta jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, sekarang
menempati semester IV dengan mengambil konsentrasi mata kuliah Jurnalistik.
Sapaan ku adalah Ratri, diambil dari nama depanku Ratri Dwi Prihantini. Kamis,
27 Mei 2014 aku mengalami kejadian-kejadian unik ketika melakukan perjalanan ke
Bank Swamitra di Klaten dan pulang-pulangnya aku tertangkap polisi karena
melanggar lampu merah. Untungnya bisa selamat walau tak ada uang sepeserpun dan
surat-surat.
Mendapat
amanat dari seorang ibu untuk pergi ke bank Swamitra, yang letaknya di dekat
Gedung Olah Raga (GOR) Klaten, demi memenuhi janji di setiap bulan. Sebenarnya
pada hari itu aku lumayan sibuk, karena aku sedang bekerja di suatu toko di
daerah Pedan untuk mengisi liburanku yang panjang. Kamis, 27 Februari 2014 aku mendapat
shif 2, jadi masuk kerja pukul 10.00 WIB, maka harus berangkat pukul 8.00 WIB
dari rumah. Supaya tidak terlambat sampai di tempat kerja. Sebelum berangkat aku
sudah diingatkan oleh ibu untuk berangkat lebih awal agar tidak terburu-buru
dalam perjalanan. Tetapi aku tetap saja susah karena sebelum berangkat masih
suka nyantai-nyantai menonton TV atau bisa dibilang nggampangke.
Waktu
sudah menunjukkan pukul 8.00 tepat, aku baru mengeluarkan sepeda motor
kesayangnku, ia sangat manja setiap paginya. Jadi harus selalu dipanasi
terlebih dahulu sebelum mengajaknya untuk pergi. Kalau tidak dipanasi dahulu,
pasti ia akan ngambeg dan akhirnya
berhenti di jalan karena marah. Tetapi karena terburu-buru, aku sengaja tidak
memanasinya. “Macet nang dalan ngko ra
dipanasi sik?” ungkap kakakku yang sengaja mengingatkan akan suatu hal. Aku pun tak memperdulikan perkataannya, karena
waktu sedang mengejarku, “Ah selak awan”
jawab ku singkat seketika memasukkan
presnel pertama motorku.
Ibu
yang selalu khawatir akan keadaanku, beliau pun berpesan padaku saat aku sudah
mulai melaju, kira-kira 5 meter meninggalkan rumah dengan berbicara keras,
supaya aku mendengarnya. “Lewat ndeso wae
ndug ndak enek tilangan” ujar ibuku untuk mengingatkan ku. Aku yang selalu mendengar
perkataan ibuku, aku sudah mempunyai niat
untuk turut dan mengikuti kata beliau bahwasanya saya harus lewat jalan di desa
saja. Kalau melewati jalan raya, ibu ku khawatirnya nanti tiba-tiba ada
tilangan, karena aku belum mempunyai Surat Izin Mengemudi (SIM). Jadi aku
disuruh untuk menghindari tilangan, karena jam segitu itu waktunya rawan
tilangan.
Namun
aku ingat lagi pesan kakakku yang tadi. Tidak sampai 5 menit aku keluar rumah,
motor ku yang manja mulai kumat “Ndreeett
ndreeett” tangisan motorku yang memintaku untuk memanasinya dulu. Dan
akhirnya setelah menangis, ngambeg
juga dan langsung mati di tempat. Ahh betapa malunya aku, motorku mati di
tempat cuci motor daerah Drangsan Ceper Klaten. Aku malu sekali karena di situ
tempat nongkrongnya temanku SMP, yang sekarang sudah agak canggung untuk
mengenalnya. Dibalik rasa maluku, ada rasa kesal yang mulai muncul, meskipun
dia segera nyamperin aku dan membantu membenahi motorku. “ngppo he motor e?” ujarnya yang sangat tidak sopan kepadaku dengan
tidak memanggil namaku. Aku mencoba sabar dengan ini, dan setelah bisa
dinyalakan, bergegas untuk dipanasi supaya tidak macet lagi. Belum sempat
mengucapkan terimakasih saja, iapun sudah meninggalkanku sendirian, rasanya itu
ingin aku jitak di kepalanya supaya bisa sedikit sopan padaku, karena aku
menjawab dengan sopan ketika ia kasar.
Akupun
juga bergegas pergi saja dan karena sudah membantuku, aku meninggalkan senyuman
mahal dari motorku “piim” ujar
motorku karena sudah dibenahi.
Setelah
lama aku berjalan, sampailah pada perempatan Karangwuni dan menyalalah lampu
merah. Karena aku belok kiri, maka aku segera belok saja tetapi, saat aku berjalan
pelan, tiba-tiba tasku yang berwarna biru dongker nyangkut di stang motor
seorang ibu. Dengan terpaksa akhirnya tas yang aku cangklong di lengan tangan kananku putus talinya dan jatuh spontan di tepi jalan yang rusak. Sudah putus
talinya saja aku malu sekali sama orang-orang yang menunggu lampu hijau dan
orang yang di pinggir jalan. Nah itu sudah putus talinya ditambah jatuh di tempat
yang ada airnya. Oohh sungguh malunya diriku saat itu, kemudian aku segera mengerem
dan mengambil tasku yang jatuh di samping kanan ban motorku bagian belakang.
Mungkin
aku yang salah karena saat itu aku berjalan di jalan yang rusak, jadi ibu yang
tersenggol tasku tidak minta maaf sedikitpun padaku. Aku yang minta maaf
dengannya, dan sungguh teganya dia tidak membantu mengambilkan tas saya. Dengan
kegrogianku yang spontan mengerem mendadak, membuat pengendara motor
dibelakangku kaget dan marah padaku sampai terucapnya kata-kata hewan. Aku
tidak berani mengungkapkannya karena kata-kata itu tidak baik untuk dibaca
maupun didengar. Aku yang susah bersikap cuek
pada orang lain, kala itu aku bersikap sangat cuek, aku tak menghiraukan kata-kata itu dan aku pun segera pergi
dengan wajah yang sangat jutek
sekali.
Sampai-sampai
aku lupa dengan pesan ibuku yang mengharuskan aku melewati jalan desa, karena
emosiku yang sudah tinggal 5 cm lagi akan keluar. Tetapi syukur alhamdulillah,
ketika aku melewati sepanjang jalan raya aku tidak menemui tilangan. Jadi aku
sangat merasa aman untuk lewat jalan raya. Tepat pukul 9.30 WIB aku baru sampai
di Bank Swamitra, karena tadi mengalami kejadian-kejadian yang tidak terduga
sama sekali. Tapi tidak apa-apa karena, aku mengiranya waktu 30 menit itu cukup
untuk sampai di tempat kerja. Setelah selesai berurusan di Bank, aku segera
kabur menuju tempat kerjaku. Namun karena matahari yang semakin meninggi,
sebelum menyalakan motorku aku memakai sarung tangan dulu supaya tangan ku
tidak kepanasan sinar matahari yang begitu panas.
Waktu
yang semakin cepat mengejarku, aku pun juga segera bertindak cepat untuk
mengajak motorku pergi bekerja. Berharap sekali untuk tidak bertemu dengan
bapak polisi di jalan raya, karena aku sudah bosan bertemu dengan bapak polisi
yang tidak mempunyai kepentingan denganku.
Tepat
di perempatan Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten, aku mulai ragu dengan lampu lalu
lintas hijau. Sebenarnya waktu aku sudah dekat dengan lampu, lampu lalu lintas
masih berwarna hijau Tapi ketika aku berada 1 meter sebelum garis putih, tiba-tiba
lampu hijau berubah menjadi merah. Dan aku sudah tidak bisa mengendalikan motorku
karena aku dalam kecepatan 90an km/jam untuk mengejar waktu supaya sampai
tempat kerja tepat waktu.
Awalnya
aku mengira aman-aman saja, karena aku tidak mendengar suara peluit dan tidak
melihat dari spionku kalau ada polisi mengikuti aku. Aku sebenarnya dag-dig-dug
sekali karena sama saja menerobos lampu merah dan takut kalau di kejar oleh
bapak polisi. Ehh mak deg di hatiku,
seperti jin yang menghilang dan bisa muncul dimana saja. Tiba-tiba saja aku
didekati oleh bapak polisi disebelah kanan saya ketika aku sudah sampai di
perbelokan Daerah Ngaran Mlese Klaten. Aku merasa sangat nggumun sekali ketika didekati polisi, karena sejak dari RSI aku melihat
dari spion tidak ada polisi yang mengikutiku, tapi itu bisa-bisa muncul di
sampingku. “Selamat siang mbak?” ujar
bapak polisi yang mengepetku untuk
segera menepi dari jalan. “Hadduh,,
siiiang pak” jawabku dengan sangat grogi, takut dan segera menepi dari
jalan.
Bapak
polisi yang terlihat sangat menakutkan itu segera meminta aku untuk
mengeluarkan surat-surat, “Keluarkan
surat-suratnya!” paksa pak polisi. Dan aku pun segera membuka tas dan
mencari dompetku, tetapi ketika dompetku aku buka hanya ada uang Rp.5.000,
Kartu Tanda Penduduk (KTP) lama dan kartu-kartuku waktu Sekolah Dasar (SD) dan
Sekolah Menengah Pertama (SMP). SIM aku belum ada, dan Surat Tanda Nomor
Kendaraan (STNK) motorku tidak ada di dompetku, tapi aku tetap mencarinya di
tasku dan hasilnya tetap nihil. “Haduh STNK
gak bawa pak” ujar ku sambil nepuk jidatku sendiri. Aku lupa-lupa ingat kalau STNK ku masih di
bawa ayahku dan aku lupa memintanya.
Rasa
bingung menghampiriku, karena polisi yang crewet
minta surat-surat dan aku berpikiran bahwa kartu yang saya bawa dan masih
berlaku hanya KTP. Namun aku mempunyai 2 KTP, jadi aku berikan saja KTP yang
lama tapi masih berlaku. Meskipun ditanya yang e-KTP, aku memberanikan diri
untuk sedikit berbohong demi bisa menyelamatkan KTP baruku. Karena aku sudah
mengira bahwa pasti akan disita, jadi aku berikan saja yang sudah tidak
terpakai.
Setelah
mendapat KTPku, pak polisi pun segera menggiringku kembali menuju pos polisi
yang ada di dekat RSI, untuk membahas kesalahan dan denda yang aku terima.
Dengan berat hati aku mengikutinya, awalnya aku berpikiran untuk kabur tetapi
takutnya akan semakin besar resiko yang aku tanggung nantinya. Jadi aku
mengikuti pak polisi dengan penuh kegelisahan, takut dan khawatir kalau dimarahi
karena terlambat datang ke tempat kerja.
Sampai
di pos polisi, aku masih kuat untuk bertahan dengan tegas. Tapi setelah aku
didesak polisi dengan pertanyaan dan pernyataan yang membuatku gila di tempat,
aku setengah sadar menjatuhkan mutiara emas dari mataku. Karena mendengar denda
dari pelanggaran yang aku buat cukup besar sekali, yaitu jutanan. Dengan arti
tidak ada SIM, STNK, belum pajak motor, melanggar lampu merah. Betapa banyaknya
pelanggaran yang aku lakukan, aku hanya bisa terdiam, bingung, merintih, apa
yang harus aku lakukan. Mencoba merayu-rayu pak polisi supaya mau meringankan
bebanku, dan aku keburu-buru kerja, sangat susah sekali itu bisa dilakukan. “aku mbantu pie eneh? Salahmu gedhe banget”
ujar polisi yang sampai sekarang selalu teringat dipikiranku.
Aku
bergegas menelphone kakakku untuk segera datang ke tkp, tapi aku berpikir nanti
pasti harus ngluarin uang. Nah aku
terlintas pikiran bahwa kakakku bisanya datang nanti pulang kerja, terus aku
juga cerita sama pak polisi kalau aku sudah terlambat ke tempat kerja. Aku pun
segera memutuskan untuk memohon-mohon pada pak polisi membebaskan saya. Dan
akhirnya setelah sekian lama aku diwawancarai dan dimarahi pak polisi. Aku
berjanji bahwa nanti sekitar pukul 3 sore kakakku kayaknya mau kesini. Katanya kalau menuggu sampai jam 3
tidak apa-apa. Pak polisi pun tidak memperhatikan kata-kataku yang kayaknya, jad dia percaya saja kalau
nanti kakakku pasti datang. “Hehehe pak
polisi bisa tertipu kata-kata juga ni” pikirku smbil ketawa. Akhirnya diperbolehkan
pergi setelah berjanji seperti itu, tapi KTP ku tetap disita sama pak polisi,
aku segera meluncur ke tempat kerja karena sudah terlambat sekali. Sampai di
tempat kerja aku ditanya-tanya lagi kenapa bisa terlambat lama, aku mulai
menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada teman dan bos ku. Namun hanya temanku
yang merasa kasian padaku. Aku tak perduli ada yang mau marah sama aku, toh aku
sedang merasa kesal jadi aku cuek bebek saja.
Setelah
tiba samapi dirumah pukul 7.00 malam, aku mulai cerita sama keluargaku dan
mereka semua sebenarnya marah padaku karena aku tledor, tetapi karena banyak
kejadian buruk sedang mengujiku di hari itu, ibuku yang selalu baik padaku
segera membuatkan ku semangkuk mie untuk penenang pikiranku. Betapa hebatnya
diriku, bisa kabur dari tangan polisi tanpa ada surat-surat dan uang sepeserpun,
KTP lama sudah tak penting lagi. Hahaha