Senin, 30 Juni 2014

Rapat : HMJ KPI Dan BKI Bahas Branding

Rapat : HMJ KPI Dan BKI Bahas Branding
IAIN Surakarta – Jumat (13/06)  pukul 13.00 WIB. Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) dan Bimbingan Konseling Islam (BKI) mengadakan rapat  kecil di lobi Fakultas Ushuluddin Dan Dakwah (FUD), membahas branding jurusan yang akan diadakan pada acara Car Free Day (CD) untuk kedua kalinya. Kali ni bekerja sama dengan KPU Solo.
Rapat yang dihadiri kurang lebih 15 an orang dari anggota HMJ KPI dan BKI ini membahas mengenai panitia branding Jurusan BKI dan KPI yang insyaallah akan digelar pada tanggal (22/06) di arena CFD Solo untuk kali keduanya. Kali ini tema yang akan diusung  ialah “Pemilu Bersih di Bulan Ramadhan”. Karena sebentar lagi kedatangan pemilu (pemilihan umum) akan datang disela-sela bulan ramadhan, maka tema yang diangkat disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya.
Pembentukan panitia untuk kegiatan tersebut dipilih secara voting oleh peserta rapat, pilihan yang muncul yaitu Dwi Potyes dari KPI semester IV dan Zamron dari semester VI. Dan ternyata dari kedua calon tersebut voting memenangkan bahwa Zamron yang terpilih untuk menjadi ketua panitia kegiatan tersebut.
            Hasil rapat memutuskan bahwa ada orang yang memerankan kedua capres dan cawapres yang akan berjalan di sepanjang Jl Salamet Riyadi. Sudah dipastikan bahwa brosur Jurusan akan disebar sebanyak 500 lembar kepada para peserta Car Free Day. Tujuan dari mengadakan kegiatan ini “untuk memperkenalkan jurusan kita pada khalayak” ujar Ayu Padma Putri selaku wakil dari ketua HMJ KPI.


KEMENDIKBUD : Gelar Jambore Jurnalistik

KEMENDIKBUD : Gelar Jambore Jurnalistik
Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) Republik Indonesia (RI) bekerjasama dengan media ANTARA, menggelar jarbore Jurnalistik (13-15/06) di Bumi Perkemahan Kiarapayung, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat yang ditujukan untuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) se Jawa Barat.
Kegiatan jambore jurnalistik atau perkemahan jurnalistik ini bertujuan untuk memberi bekal ilmu jurnalistik kepada para siswa SMA yang ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yakni bangku kuliah, supaya lebih memahami. Bagi yang tidak melanjutkan ke bangku kuliah agar dapat mengembangkan ilmu jurnalistik yang telah didapat.
Peserta Jambore Jurnalistik tidak dipungut biaya sedikitpun alias gratis dan bersertifikat KEMENDIKBUD ketika mendaftar dan kuota yang tersedia 400 orang. Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari dimulai pada jumat pagi, dan para peserta diharuskan sudah berkumpul di Bumi Perkemahan. Guna mendirikan tenda untuk tempat istirahat terlebih dahulu.
“Kegiatan yang direncanakan bermacam-macam, yang pasti pembelajaran ilmu jurnalistik yang dikemas dengan format perkemahan” ujar veronica selaku contac person Jambore Jurnalistik. Acara yang digelar misalnya seperti Whorkshop mengenai Radio, Televisi, Media Cetak serta Fotografi Jurnalistik.
Pemateri yang senang hati mau berbagi pengalaman dan ilmu untuk mengisi Jambore Jurnalistik diantaranya Sizuka dari Produser TV, Imam Prihadiyoto dari Redaktur KOMPAS, Febri Ilham dari Penyiar RRI, dan Prio Sambodo seorang Animator.

Dengan diadakannya kegiatan Jambore Jurnalistik yang begitu menarik perhatian dan dapat menambah pengetahuan ini. Sangat berguna sekali bagi yang minat dan menginginkan ilmu tentang jurnalistik supaya bisa mendalami hal-hal tentang media.

ISI Jadi Tuan Rumah PEKSIMIDA

ISI Jadi Tuan Rumah PEKSIMIDA
Seleksi PEKSIMIDA (Pekan Seni Mahasiswa) Lomba Tangkai Tari 2014 Se-Jateng, jumat, 30 Mei 2014 tepat pukul 19.00 sampai 24.00 di gedung Teater Besar ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta yang di ikuti oleh 11 Universitas se-Jawa Tengah berjalan dengan lancar penuh antusias dari penonton yang datang malam itu.
“ISI Surakarta yang menjadi tuan rumah untuk seleksi PEKSIMIDA malah tidak mengikuti dengan alasan kalau sampai menang takutnya ada hal yang tidak beres sebab diadakan di kandang sendiri, dan jika kalah akan mempermalukan ISI yang sebagai tuan rumah PEKSIMIDA”, ujar putriana selaku personil TRADISKA dari mahasiswa IAIN Surakarta.
Dari beberapa Universitas tersebut, malam itu juga akan dipilih 1 perwakilan untuk mewakili Jawa Tengah di ajang PEKSIMINAS (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) di Pontianak Kalimantan, bulan Juli mendatang. Acara itu sengaja diadakan oleh pemerintah untuk melestarikan budaya negara kita yaitu Tari, di berbagai daerah dan Universitas khususnya untuk mahasiswa yang sekarang sudah mulai melupakan budaya sendiri. Maka dengan lomba tari ini supaya mahasiswa tahu, mengerti dan dapat melestarikan budayanya sendiri.
Lomba PEKSIMIDA Tangkai Tari Se-Jawa Tengah ini diikuti oleh 11 Perguruan Tinggi, diantaranya Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas (UNSOED), Universitas Negeri Semarang (UNES), Universitas Dian Nusantara (UNDINUS) Semarang, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, IKIP PGRI Semarang.

TRADISKA (Tradisional Dance IAIN Surakarta) merupakan salah satu peserta dari Perguruan Tinggi yang mengikuti lomba PEKSIMIDA. TRADISKA yang beranggotakan 7 mahasiswi berjilbab ini diantaranya ada Putriana Sandi (dari Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam), Desi, Ulil, Imah, Putri (dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris), Septina (Sastra Inggris), Ika (Jurusan Akuntansi). Meskipun mereka tidak bisa mewakili Jawa Tengah menuju PEKSIMINAS, mereka tetap merasa bahagia karena bisa tampil di PEKSIMIDA.

Seminar Citizen journalism Menarik Perhatian Mahasiswa Dan Umum

Seminar Citizen journalism Menarik Perhatian Mahasiswa Dan Umum
Mahasiswa Semester 6 Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Konsentrasi Public Relation (PR) Fakultas Ushuluddin Dan Dakwah (FUD) telah menyelenggarakan seminar pada hari selasa, 27 Mei 2014 di Gedung Pascasarjana Lantai 4  Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Dengan tema “ Tips & Trik To Be Citizen Journalism” berlangsung dengan sukses dan lancar karena kedatangan pembicara yang handal.
Seminar Tips & Trik To Be Citizen Journalism dengan 2 pembicara, pertama Bapak Is Ariyanto seorang pemenang juara 1 Citizen Journalism pada tahun 2013 dan Mbak Pythag Kurniati, seorang pemenang juara 1 Wideshot Kategori Feature tahun 2013 dan baru saja di wisuda untuk mendapatkan gelar S1 di jurusan Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS). Keduanya saling berbagi pengalaman mengenai Citizen Journalism yang mereka alami. Dengan menampilkan video dan memberi tahu cara-cara dan syarat-syarat liputan yang baik kepada para peserta seminar.
Seminar yang diadakan oleh para Mahasiswa KPI konsentrasi PR ini, mempunyai niat untuk “memperkenalkan Jurnalis warga kepada masyarakat. Supaya kedepannya masyarakat itu sendiri bisa turut aktif dalam perkembangan media saat ini.” ujar mbak Ida salah satu panitia acara tersebut. Dengan diselenggarakannya seminar Tips & Trik To Be Citizen Journalism, dapat memberikan peluang kepada masyarakat untuk mengembangkan bakat dan minat dalam bidang jurnalis.
Acara seminar yang diadakan oleh mahasiswa Public Relation ini, diwajibkan untuk mahasiswa KPI tetapi, juga boleh dihadiri masyarakat umum. Jadi mahasiswa dan siswa manapun boleh untuk mengikutinya. Dengan ketentuan, khusus mahasiswa IAIN Surakarta dikenakan biaya 20 ribu, umum 25 ribu dan untuk on the spot 30 ribu. Tetapi untuk mahasiswa IAIN sendiri hanya dikenakan biaya 7 ribu saja, alasannya diberi dana dari jurusan untuk seluruh mahasiswa KPI yang diwajibkan untuk mengikutinya.
Siswa dari SMA Negeri 1 Surakarta dan SMA Negeri 1 Karangdowo Klaten lah yang mengikuti acara ini dengan maksud mereka untuk mencari ilmu dan mengerti tentang Citizen Journalism yang sesungguhnya. “Aku pingin ajar gae Citizen Journalism mbak ben sesok isoh, aku tertarik banget mbak” ujar Naim, seorang pelajar dari SMA Negeri Karangdowo, seusai pelaksanaan seminar. Acara ini telah terbukti sukses memikat hati para peserta dengan tema dan isi yang menarik ini, membuat para peserta ingin bisa menjadi Citizen Journalism.

Mengenai kehadiran peserta, “sebenarnya belum memenuhi target yang ada, masalahnya kemarin itu juga ngadainnya waktunya mepet tapi lumayan banyak yang datang dan alhamdulillah acaranya sukses”, ujar mbak Ida. Meskipun target yang diinginkan 60 an peserta, meskipun yang hadir kurang dari target, hal itu tidak mengurangi semangat para panitia dan pembicara acara Tips & Trik To Be Citizen Journalism. “Seneng bisa berbagi pengalaman dengan teman-teman dan pesertanya lumayan banyak kog” ujar Mbak pythag setelah usai mengisi seminar.

Selasa, 10 Juni 2014

MAAF

MAAF
Dengan tinta hitam yang akan ku goreskan pada selembar kertas buram.
Didalam hati ku hanya ada satu rasa yang ingin sekali aku ungkapkan
Empat huruf yang akan aku rangkai menjadi sebuah kata yang indah
Kata yang indah mungkin akan bisa mengurangi bebanku
Hanya secuil kata itu yang mempunyai arti begitu dalam
Begitu berat untuk mengatakannya dengan tulus hati
Tapi lebih berat bagi yang akan memberi jawaban atas kata itu
Sebenarnya mudah untuk mengatakan itu
Namun hanya butuh niat yang tulus ikhlas dari lubuk hati
Dengan kata itu aku bisa hidup dalam ranah yang makin tak wajar ini
Aku pelihara sepenuh hati sampai ajal menjemputku
Tuhan,, MAAF atas segala perbuatan buruk yang aku lakukan
Aku hanya bisa memohon kepadaMu

Agar Kau selalu melindungi ku sampai nanti.

Selasa, 27 Mei 2014

Lepas Dari Tangan Polisi Tanpa Uang Dan Surat-Surat

Lepas Dari Tangan Polisi Tanpa Uang Dan Surat-Surat
Aku seorang mahasiswi IAIN Surakarta jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, sekarang menempati semester IV dengan mengambil konsentrasi mata kuliah Jurnalistik. Sapaan ku adalah Ratri, diambil dari nama depanku Ratri Dwi Prihantini. Kamis, 27 Mei 2014 aku mengalami kejadian-kejadian unik ketika melakukan perjalanan ke Bank Swamitra di Klaten dan pulang-pulangnya aku tertangkap polisi karena melanggar lampu merah. Untungnya bisa selamat walau tak ada uang sepeserpun dan surat-surat.
Mendapat amanat dari seorang ibu untuk pergi ke bank Swamitra, yang letaknya di dekat Gedung Olah Raga (GOR) Klaten, demi memenuhi janji di setiap bulan. Sebenarnya pada hari itu aku lumayan sibuk, karena aku sedang bekerja di suatu toko di daerah Pedan untuk mengisi liburanku yang panjang. Kamis, 27 Februari 2014 aku mendapat shif 2, jadi masuk kerja pukul 10.00 WIB, maka harus berangkat pukul 8.00 WIB dari rumah. Supaya tidak terlambat sampai di tempat kerja. Sebelum berangkat aku sudah diingatkan oleh ibu untuk berangkat lebih awal agar tidak terburu-buru dalam perjalanan. Tetapi aku tetap saja susah karena sebelum berangkat masih suka nyantai-nyantai menonton TV atau bisa dibilang nggampangke.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8.00 tepat, aku baru mengeluarkan sepeda motor kesayangnku, ia sangat manja setiap paginya. Jadi harus selalu dipanasi terlebih dahulu sebelum mengajaknya untuk pergi. Kalau tidak dipanasi dahulu, pasti ia akan ngambeg dan akhirnya berhenti di jalan karena marah. Tetapi karena terburu-buru, aku sengaja tidak memanasinya. “Macet nang dalan ngko ra dipanasi sik?” ungkap kakakku yang sengaja mengingatkan akan suatu hal.  Aku pun tak memperdulikan perkataannya, karena waktu sedang mengejarku, “Ah selak awan” jawab ku singkat seketika memasukkan presnel pertama motorku.
Ibu yang selalu khawatir akan keadaanku, beliau pun berpesan padaku saat aku sudah mulai melaju, kira-kira 5 meter meninggalkan rumah dengan berbicara keras, supaya aku mendengarnya. “Lewat ndeso wae ndug ndak enek tilangan” ujar ibuku untuk mengingatkan ku. Aku yang selalu mendengar  perkataan ibuku, aku sudah mempunyai niat untuk turut dan mengikuti kata beliau bahwasanya saya harus lewat jalan di desa saja. Kalau melewati jalan raya, ibu ku khawatirnya nanti tiba-tiba ada tilangan, karena aku belum mempunyai Surat Izin Mengemudi (SIM). Jadi aku disuruh untuk menghindari tilangan, karena jam segitu itu waktunya rawan tilangan.
Namun aku ingat lagi pesan kakakku yang tadi. Tidak sampai 5 menit aku keluar rumah, motor ku yang manja mulai kumat “Ndreeett ndreeett” tangisan motorku yang memintaku untuk memanasinya dulu. Dan akhirnya setelah menangis, ngambeg juga dan langsung mati di tempat. Ahh betapa malunya aku, motorku mati di tempat cuci motor daerah Drangsan Ceper Klaten. Aku malu sekali karena di situ tempat nongkrongnya temanku SMP, yang sekarang sudah agak canggung untuk mengenalnya. Dibalik rasa maluku, ada rasa kesal yang mulai muncul, meskipun dia segera nyamperin aku dan membantu membenahi motorku. “ngppo he motor e?” ujarnya yang sangat tidak sopan kepadaku dengan tidak memanggil namaku. Aku mencoba sabar dengan ini, dan setelah bisa dinyalakan, bergegas untuk dipanasi supaya tidak macet lagi. Belum sempat mengucapkan terimakasih saja, iapun sudah meninggalkanku sendirian, rasanya itu ingin aku jitak di kepalanya supaya bisa sedikit sopan padaku, karena aku menjawab dengan sopan ketika ia kasar.
Akupun juga bergegas pergi saja dan karena sudah membantuku, aku meninggalkan senyuman mahal dari motorku “piim” ujar motorku karena sudah dibenahi.
Setelah lama aku berjalan, sampailah pada perempatan Karangwuni dan menyalalah lampu merah. Karena aku belok kiri, maka aku segera belok saja tetapi, saat aku berjalan pelan, tiba-tiba tasku yang berwarna biru dongker nyangkut di stang motor seorang ibu. Dengan terpaksa akhirnya tas yang aku cangklong di lengan tangan kananku putus talinya dan jatuh  spontan di tepi jalan yang rusak. Sudah putus talinya saja aku malu sekali sama orang-orang yang menunggu lampu hijau dan orang yang di pinggir jalan. Nah itu sudah putus talinya ditambah jatuh di tempat yang ada airnya. Oohh sungguh malunya diriku saat itu, kemudian aku segera mengerem dan mengambil tasku yang jatuh di samping kanan ban motorku bagian belakang.
Mungkin aku yang salah karena saat itu aku berjalan di jalan yang rusak, jadi ibu yang tersenggol tasku tidak minta maaf sedikitpun padaku. Aku yang minta maaf dengannya, dan sungguh teganya dia tidak membantu mengambilkan tas saya. Dengan kegrogianku yang spontan mengerem mendadak, membuat pengendara motor dibelakangku kaget dan marah padaku sampai terucapnya kata-kata hewan. Aku tidak berani mengungkapkannya karena kata-kata itu tidak baik untuk dibaca maupun didengar. Aku yang susah bersikap cuek pada orang lain, kala itu aku bersikap sangat cuek, aku tak menghiraukan kata-kata itu dan aku pun segera pergi dengan wajah yang sangat jutek sekali.
Sampai-sampai aku lupa dengan pesan ibuku yang mengharuskan aku melewati jalan desa, karena emosiku yang sudah tinggal 5 cm lagi akan keluar. Tetapi syukur alhamdulillah, ketika aku melewati sepanjang jalan raya aku tidak menemui tilangan. Jadi aku sangat merasa aman untuk lewat jalan raya. Tepat pukul 9.30 WIB aku baru sampai di Bank Swamitra, karena tadi mengalami kejadian-kejadian yang tidak terduga sama sekali. Tapi tidak apa-apa karena, aku mengiranya waktu 30 menit itu cukup untuk sampai di tempat kerja. Setelah selesai berurusan di Bank, aku segera kabur menuju tempat kerjaku. Namun karena matahari yang semakin meninggi, sebelum menyalakan motorku aku memakai sarung tangan dulu supaya tangan ku tidak kepanasan sinar matahari yang begitu panas.
Waktu yang semakin cepat mengejarku, aku pun juga segera bertindak cepat untuk mengajak motorku pergi bekerja. Berharap sekali untuk tidak bertemu dengan bapak polisi di jalan raya, karena aku sudah bosan bertemu dengan bapak polisi yang tidak mempunyai kepentingan denganku.
Tepat di perempatan Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten, aku mulai ragu dengan lampu lalu lintas hijau. Sebenarnya waktu aku sudah dekat dengan lampu, lampu lalu lintas masih berwarna hijau Tapi ketika aku berada 1 meter sebelum garis putih, tiba-tiba lampu hijau berubah menjadi merah. Dan aku sudah tidak bisa mengendalikan motorku karena aku dalam kecepatan 90an km/jam untuk mengejar waktu supaya sampai tempat kerja tepat waktu.
Awalnya aku mengira aman-aman saja, karena aku tidak mendengar suara peluit dan tidak melihat dari spionku kalau ada polisi mengikuti aku. Aku sebenarnya dag-dig-dug sekali karena sama saja menerobos lampu merah dan takut kalau di kejar oleh bapak polisi. Ehh mak deg di hatiku, seperti jin yang menghilang dan bisa muncul dimana saja. Tiba-tiba saja aku didekati oleh bapak polisi disebelah kanan saya ketika aku sudah sampai di perbelokan Daerah Ngaran Mlese Klaten. Aku merasa sangat nggumun sekali ketika didekati polisi, karena sejak dari RSI aku melihat dari spion tidak ada polisi yang mengikutiku, tapi itu bisa-bisa muncul di sampingku. “Selamat siang mbak?” ujar bapak polisi yang mengepetku untuk segera menepi dari jalan. “Hadduh,, siiiang pak” jawabku dengan sangat grogi, takut dan segera menepi dari jalan.
Bapak polisi yang terlihat sangat menakutkan itu segera meminta aku untuk mengeluarkan surat-surat, “Keluarkan surat-suratnya!” paksa pak polisi. Dan aku pun segera membuka tas dan mencari dompetku, tetapi ketika dompetku aku buka hanya ada uang Rp.5.000, Kartu Tanda Penduduk (KTP) lama dan kartu-kartuku waktu Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). SIM aku belum ada, dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) motorku tidak ada di dompetku, tapi aku tetap mencarinya di tasku dan hasilnya tetap nihil. “Haduh STNK gak bawa pak” ujar ku sambil nepuk jidatku sendiri.  Aku lupa-lupa ingat kalau STNK ku masih di bawa ayahku dan aku lupa memintanya.
Rasa bingung menghampiriku, karena polisi yang crewet minta surat-surat dan aku berpikiran bahwa kartu yang saya bawa dan masih berlaku hanya KTP. Namun aku mempunyai 2 KTP, jadi aku berikan saja KTP yang lama tapi masih berlaku. Meskipun ditanya yang e-KTP, aku memberanikan diri untuk sedikit berbohong demi bisa menyelamatkan KTP baruku. Karena aku sudah mengira bahwa pasti akan disita, jadi aku berikan saja yang sudah tidak terpakai.
Setelah mendapat KTPku, pak polisi pun segera menggiringku kembali menuju pos polisi yang ada di dekat RSI, untuk membahas kesalahan dan denda yang aku terima. Dengan berat hati aku mengikutinya, awalnya aku berpikiran untuk kabur tetapi takutnya akan semakin besar resiko yang aku tanggung nantinya. Jadi aku mengikuti pak polisi dengan penuh kegelisahan, takut dan khawatir kalau dimarahi karena terlambat datang ke tempat kerja.
Sampai di pos polisi, aku masih kuat untuk bertahan dengan tegas. Tapi setelah aku didesak polisi dengan pertanyaan dan pernyataan yang membuatku gila di tempat, aku setengah sadar menjatuhkan mutiara emas dari mataku. Karena mendengar denda dari pelanggaran yang aku buat cukup besar sekali, yaitu jutanan. Dengan arti tidak ada SIM, STNK, belum pajak motor, melanggar lampu merah. Betapa banyaknya pelanggaran yang aku lakukan, aku hanya bisa terdiam, bingung, merintih, apa yang harus aku lakukan. Mencoba merayu-rayu pak polisi supaya mau meringankan bebanku, dan aku keburu-buru kerja, sangat susah sekali itu bisa dilakukan. “aku mbantu pie eneh? Salahmu gedhe banget” ujar polisi yang sampai sekarang selalu teringat dipikiranku.
Aku bergegas menelphone kakakku untuk segera datang ke tkp, tapi aku berpikir nanti pasti harus ngluarin uang. Nah aku terlintas pikiran bahwa kakakku bisanya datang nanti pulang kerja, terus aku juga cerita sama pak polisi kalau aku sudah terlambat ke tempat kerja. Aku pun segera memutuskan untuk memohon-mohon pada pak polisi membebaskan saya. Dan akhirnya setelah sekian lama aku diwawancarai dan dimarahi pak polisi. Aku berjanji bahwa nanti sekitar pukul 3 sore kakakku kayaknya mau kesini. Katanya kalau menuggu sampai jam 3 tidak apa-apa. Pak polisi pun tidak memperhatikan kata-kataku yang kayaknya, jad dia percaya saja kalau nanti kakakku pasti datang. “Hehehe pak polisi bisa tertipu kata-kata juga ni” pikirku smbil ketawa. Akhirnya diperbolehkan pergi setelah berjanji seperti itu, tapi KTP ku tetap disita sama pak polisi, aku segera meluncur ke tempat kerja karena sudah terlambat sekali. Sampai di tempat kerja aku ditanya-tanya lagi kenapa bisa terlambat lama, aku mulai menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada teman dan bos ku. Namun hanya temanku yang merasa kasian padaku. Aku tak perduli ada yang mau marah sama aku, toh aku sedang merasa kesal jadi aku cuek bebek saja.
Setelah tiba samapi dirumah pukul 7.00 malam, aku mulai cerita sama keluargaku dan mereka semua sebenarnya marah padaku karena aku tledor, tetapi karena banyak kejadian buruk sedang mengujiku di hari itu, ibuku yang selalu baik padaku segera membuatkan ku semangkuk mie untuk penenang pikiranku. Betapa hebatnya diriku, bisa kabur dari tangan polisi tanpa ada surat-surat dan uang sepeserpun, KTP lama sudah tak penting lagi. Hahaha

Sabtu, 03 Mei 2014

MENABUR CINTA MENUAI RINDU


Cinta adalah makanan bagi hati dan obat penenang rohani. Ia adalah obat bagi seluruh penyakit yang bersarang di dada seseorang. Ia juga merupakan kebahagiaan, yang jika seseorang tidak mendapatkannya maka hidupnya berarti kepedihan dan penderitaan.
Cinta itu akan membuat hati mereka terasa damai, membuat segala kesulitan menjadi mudah, sedih menjadi gembira, sehingga dengannya hilanglah segala kekhawatiran, kesempitan dan penderitaan.
Cinta itu akan berubah kerinduan. Rindu untuk bersua, rindu untuk berdua, rindu untuk bersama dan rindu untuk memuja.
Itulah cinta yang suci. Cinta yang tak terkotori oleh noda apapun, yang tulus dari hati yang terdalam, yang akan mengantarkan seorang hamba kehadapan Rabb-nya, yakni cinta kepada Sang Pencipta, Allah SWT.
Cara Mendapatkan Cinta Allah.
Bukanlah hal yang luar biasa bila seorang hamba mencintai Allah ‘azza wa jalla. Karena setiap orang dapat mengatakannya. Akan tetapi bila Allah mencintai mereka, maka itulah yang istimewa karena tidak setiap hamba akan memperolehnya,
Kecintaan dari Allah berarti Dia memberikan keridhoaan. Kecintaan itu hanya akan didapat dengan taat kepada-Nya, yakni menjalankan semua yang diperintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Kemudian setelah itu dengan menjalankan amalan-amalan sunnah. Rasulullah SAW bersabda : “sesunggguhnya ‘azza wa jalla telah berfirman : barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka sungguh aku umumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku  mendekat kepada-ku dengan suatu amalah yang lebih Aku cintai dari pada amalan yang Aku wajibkan kepada mereka. Dan senantiasa hambaku mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, hingga aku mencintai mereka. Dan jika aku mencintai meereka, maka aku menjadi pendengaran baginya yang dengannya mereka mendengar, penglihatan mereka yang dengannya mereka melihat, tngan mereka yang dengannya mereka berbuat, dan kaki mereka yang dengannya mereka berjalan. Dan apabila mereka meminta sesuatu, maka sungguh Aku akan memberikan, dan jika mereka memohon perlindungan, maka sungguh Aku akan melindungi.” (HR. Al-Bukhari)
Menuju Cinta dengan Taubat
Betapa banyak kemaksiatan telah kita lakukan, baik sengaja maupun tidak. Betapa sering kita durhaka kepada-Nya. Perintah-perintah-Nya kita abaikan, larangan-larangan-Nya kita langgar, sunnah-sunnah Rasul-Nya pun kita tinggalkan.
Akan tetapi subhanaalah….. betapa luas ampunan-Nya. Meski kita durhaka, tetap Dia limpahkan juga rizki-Nya kepada kita. Tetap Dia biarkan nikmat-nikmat-Nya melekat pada diri kita. Nikmat pendengaran,penglihatan, sehat dan juga nikmat lain yang sering tak kita sadari. Akankah kita menjadi hamba yang tak pandai bersyukur?
Allah SWT senantiasa menjanjikan ampunan bagi tiap hamba yang ingin kembali kepada-Nya. Pintu untuk kembali itu adalah taubat. Dia berfirman : “hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa. Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu kedalam surge yang mengalir dibawhnya sungai-sungai….” (QS.At-Tahriim:8)
Rasul-Nya SAW juga bersabda, “sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada waktu malam supaya bertaubat orang yang telah melanggar pada siang hari, Dia juga mengulurkan tangan-Nya pada waktu siang supaya bertaubat orang yang berdosa pada waktu malam. Keadaan tersebut tetap terus berlangsung hingga matahari terbit dari arah tenggelamnya.” (HR. Muslim)
Allah mencintai orang yang bertaubat. Namun dia benci orang yang menyengaja untuk bermaksiat. Apalagi berulang-ulang. Apalagi menjadikannya permainan, yakni bermaksiat, bertaubat, dan terus mengulanginya kembali tanpa penyesalan.
Ketahuuilah saudaraku, dosa yang terus di ulang tanpa penyesalan itu lebih pantas disebut kedurhakaan, karena yang namanya taubat itu mengharuskan adanya penghenttian dan rasa sesal yang mendalam. (Rahman, Norman. Akhlak al-karimah. Klaten : Prima Media Press)