DAKWAH DALAM SUATU KAJIAN KEISLAMAN
Dakwah
secara bahasa mempunyai makna bermacam-macam, yaitu:
1.
النداء : memanggil
dan menyeru.
2.
Menegaskan atau membela, baik terhadap yang
benar ataupun yang salah, yang positif maupun yang neagatif.
3.
Suatu usaha berupa perkataan atau perbuatan untuk menarik seseorang
kepada suatu aliran atau agama tertentu.
4.
Do’a (permohonan)
5.
Meminta dan mengajak seperti ungkapan, da’a bi as-syai’ yang
artinya meminta dihidangkan atau dihidangkan makanan atau minuman. (Faizah,
2006:4)
Dakwah
adalah kewajiban setiap muslim yang harus dilakukan secara bersinambung, yang
bertujuan akhir mengubah perilaku manusia berdasarkan pengetahuan dan sikap
yang benar, yakni untuk membawa manusia ke arah yang baik yakni untuk mengabdi
kepada Allah secara total, mencintai Allah dan Rasul mereka lebih daripada
kecintaan mereka terhadap diri mereka sendiri, seperti yang ditunjukkan oleh
para sahabat NAbi.
Keberhasilan
dakwah pertama-tama adalah karena hidayah Allah, bukan sekedar hasil usaha
manusia. Ada anggapan bahwa dakwah seseorang yang berilmu tinggi, fasih membaca
Al-Qur’an dan hadist akan berhasil. Kenyataannya, di Negara kita kemaksiatan
merajalela, padahal ulama bertebaran dimana-mana dan ceramah agama pun marak,
baik secara langsung ataupun lewat televisi. Ilmu agama yang tinggi juga tidak
selalu sejajar dengan keimanan yang tinggi.
Dakwah
dan komunikasi merupakan aktivitas yang hampir sama, walaupun terdapat pula
perbedaan-perbedaan. Kalau diperhatikan secara seksama dan mendalam, pengertian
dakwah itu tidak jauh berbeda dengan komunikasi. Antara keduanya, dakwah dan
komunikasi merupakan dua sisi yang berbeda, hanya saja yang dibedakan dari
bentuk komunikasi lainnya adalah pada cara dan tujuan yang akan dicapainya.
Tujuan
dari komunikasi adalah mengharapkan adanya suatu partisipasi dari komunikan
atas ide-ide atau pesan yang disampaikan oleh pihak komunikator sehingga dari pesan yang
disampaikan tersebut terjadi perubahan sikap dan tingkah laku yang diharapkan
karena adanya suatu kesamaan makna dan respon antara komunikator dan komunikan.
Sedangkan
di dalam dakwah juga demikian, bahwa seorang da’i sebagai komunikator sangat
mengharapkan adanya partisipasi dari pihak komunikan dan kemudian mengharapkan
agar komunikannya tersebut dapat mengerti benar apa maksud dari pesan sang da’I
serta dapat bersikap dan berbuat sesuai
dengan isi pesan yang disampaikan oleh da’i tesebut.
Ciri
khas yang membedakan antara dakwah dan komunikasi adalah pada pendekatannya
yang dilakukan secara persuasive, dan
bertujuan mengharapkan terjadinya perubahan dan pembentukan sikap dan tingkah
laku sesuai dengan ajaran-ajaran islam. (Toto Tasmara, 1987 : 39)
Dapat
dikatakan bahwa dakwah itu juga merupakan suatu proses komunikasi, tetapi tidak
semua proses komunikasi merupakan proses dakwah. Dengan demikian dakwah itu
merupakan suatu bentuk komunikasi yang khas dan dapat dibedakan dari bentuk
komunikasi lainnya dalam beberapa hal debagai berikut :
a.
Siapakah pelakunya (komunikator), yaitu: kalau dakwah itu pelakunya disebut sebagai da’I
atau penceramah tentang suatu agama tertentu, sedangkan komunikasi itu dapat
dilakukan oleh siapapun.
b.
Apakah pesan-pesannya (message) yaitu: pesan atau isi yang
disampaikan oleh sang da’I itu kebanyakan tentang agama tetapi kalau komunikasi
itu pesan yang disampaikan berupa apa saja.
c.
Bagaimanakah caranya (approach) yaitu: cara yang digunakan
pendakwah untuk menyampaikannya bisa melalui kajian keislaman seperti yang
dibahas pada bab ini, sedangkan komunikasi dapat disampaikan melalui apa saja
bisa tidak harus formal.
d.
Apakah tujuannya (destination) yaitu : kalau untuk
dakwah mengajak dan membujuk kepada sesuatu yang baik
,sedangkan komunikasi untuk menyampaikan sesuatu dan mengungkapkan perasaaan
dan lain-lain.
e.
Siapaka penerimanya (komunikan) yaitu: kalau dakwah itu
penerimanya dapat disebut mad’u dan bisa juga untuk khalayak umum, sama
dengan komunikasi juga dapat diterima di khalayak umum dan dapat juga diterima
oleh satu orang saja (komunikasi personal).
Ciri-ciri dakwah yang efektif adalah
:
Sebagai
suatu usaha, aktivitas dakwah harus bisa di ukur keberhasilannya. Oleh karena
itu, tujuan dari aktivitas dakwah harus dirumuskan secara definitive, terutama
tujuan mikronya. Dari sudut psikologi dakwah, ada lima cirri dakwah yang
efektif, yaitu :
1.
jika dakwah dapat memberikan pengertian kepada masyarakat (Mad’u)
tentang apa yangdidakwahkan.
2.
Jika masyarakat (Mad’u) merasa terhibur oleh dakwah yang diterima.
3.
Jika dakwah berhasil meningkatkan hubungan baik antara Da’I dan
masyarakat.
4.
Jika dakwah dapat mengubah sikap masyarakat (Mad’u).
5.
Jika dakwah berhasil memancing respons masyarakat berupa tindakan.
Bentuk
dakwah yang efektif adalah dengan
memberikan contoh teladan, karena sasaran akan lebih mudah dan lebih cepat
menyerap nilai-nilai islam melalui contoh-contoh konkret. Seperti halnya dakwah
dalam suatu kajian keislaman yang harus
disampaikan dengan jelas secara tatap muka yaitu dengan berkomunikasi secara
kelompok, karena dalam suatu kajian keislaman di suatu desa atau masyarakat itu
pasti yang mengikuti banyak. Berkomunikasi di dalam suatu kelompok atau sebagai
seorang Da’i itu harus bisa mengontrol diri di depan para pendengarnya.
Sebelum melakukan dakwah di depan umum, harus mempersiapkan diri terlebih
dahulu dengan mempersiapkan segalanya, agar bisa melakukan komunikasi dengan
pendengarnya bisa lancar dan berjalan dengan baik, misalnya dengan
mempersiapkan pesan apa yang akan disampaikan dan berlatih berbicara di depan
umum supaya tidak kringat dingin ketika berbicara . Kalau tidak bisa tenang
dalam berbicara atau berkomunikasi tersebut tidak akan bisa efektif, karena
sang pendengar pasti tidak berkonsentrasi terhadap apa yang disampaikan
melainkan hanya memperhatikan sang da’I yang kringat dingin tersebut
bahkan bisa juga tertawa sendiri melihatnya .
Dalam
disiplin komunikasi, khususnya pidato di depan kajian keislaman seperti ini,
kerisauan ini identik dengan empati, yang berperan penting dalam keberhasilan
komunikasi , sedangkan keikhlasan adalah aspek penting dari kredibilitan
komunikator. Tanpa keikhlasan, pesan komunikasi yang disampaikan akan dicemooh
khalayak. Kita merasakan betapa janggal
orang yang menyerukan kebaikan, sementara perilakunya sendiri bertentangan
dengan seruannya. Jadi seorang da’i itu harus bisa menjadi apa yang
menjadi seruannya itu, tidak hanya berpidato saja tetapi kelakuannya tidak
mencerminkan seperti apa yang ia serukan dalam dakwahnya kepada masyarakat
tersebut.
Dakwah
itu harus disampaikan secara persuasive, yaitu dengan menggunakan cara berfikir
dan cara merasa masyarakat yang didakwahi sehingga mereka mematuhi seruan dari da’I
tersebut.
Komunikasi
(Communication), secara etimologi berasal dari kata latin communication,
dan bersumber dari communis yang berarti sama. Disini maksudnya sama
makna. Sama makna itu berarti apa yang dibicarakan oleh da’I yang sedang
berkomunikasi di depan khalayak umum dan khalayak dapat menerima serta dapat
mengerti baik apa maksud yang sedang dibicarakan oleh sang da’I , dan itulah
yang dinamakan komunikasi yang efektif antara seseorang dengan sekelompok
orang.
Sebagai
peristiwa komunikasi, aktivitas dakwah dapat menimbulkan berbagai peristiwa
yang harmoni, yang menegangkan, yang kontroversial, bisa juga melahirkan
berbagai pemikiran, baik pemikiran yang moderat maupun yang ekstrem, yang
sederhana maupun yang rumit, yang parsial maupun komprehensif. Untuk menjadikan
dakwah dalam suatu kajian keislaman tersebut menjadi efektif , da’I
harus memahami beberapa prinsip-prinsip dakwah sebagai berikut :
1.
Berdakwah harus dimulai dari diri sendiri dan kemudian menjadikan
keluarganya sebagai contoh bagi masyarakat.
2.
Secara mental, Da’I harus menjadi pewaris para nabi, yakni
mewarisi kejuangan yang berresiko.
3.
Da’I harus menyadari bahwa para pengkaji keislaman membutuhkan waktu
untuk dapat memahami pesan dakwah.
4.
Da’I juga harus menyelami alam pikiran para pengkaji keislaman sehingga
kebenaran islam bisa disampaikan dengan menggunakan logika masyarakat.
5.
Dalam menghadapi kesulitan, da’I harus bersabar menghadapi para
pengkaji keislaman tersebut.
6.
Citra positif dakwah akan sangat melancarkan komunikasi dakwah, dan
sebaliknya citra buruk akan membuat semua aktivitas dakwah menjadi
kontraproduktif.
Jadi
kegiatan dakwah dalam suatu kajian keislaman adalah suatu komunikasi dimana
da’i mengomunikasikan pesan kepada Mad’u, perseorangan atau kelompok. Secara
teknis dakwah adalah komunikasi antara Da’i (komunikator) dan Mad’u
(komunikan). Semua hokum yang berlaku dalam ilmu komunikasi berlaku juga dalam
dakwah, hambatan komunikasi adalah hambatan dakwah, dan bagaimana mengungkapkan
apa yang tersembunya dibalik perilaku manusia dakwah sama juga dengan apa yang
harus dikerjakan pada manusia komunikan.
Kemudian perbedaan dari dakwah dan
komunikasi itu terletak pada muatan pesannya, pada komunikasi sifatnya netral
sedangkan pada dakwah terkandung nilai-nilai yang bersifat keteladanan dan
kebenaran. (Faizah, 2006 : 37)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar